Bagaimana Saya Menangani Klien yang “Nakal” (dan Memperbaiki Kesalahan Saya Sendiri)
Blog ini menceritakan perjalanan sebuah project website yang sejak awal sudah memiliki celah karena keputusan profesional yang keliru. Tanpa kontrak yang ditandatangani dan dengan batas yang longgar, masalah komunikasi dan keterlambatan mulai muncul. Cerita ini berakhir saat penulis mengambil tanggung jawab, menghentikan sementara project, menegakkan proses, dan mengembalikan kendali melalui struktur dan ketegasan yang tepat.
Ini adalah cerita tentang klien yang nakal.Tapi yang lebih penting, ini adalah cerita tentang kesalahan saya sendiri — dan bagaimana saya memperbaikinya sebelum jadi masalah besar.
Kesalahan Pertama
Saya menerima sebuah project website company profile dari seorang klien.Di awal, semuanya terlihat normal.
Lalu muncul red flag pertama.
Klien meminta keuntungan pribadi di luar kesepakatan project resmi.Tidak perlu dipermanis — saya setuju.
Saya tahu itu salah.Saya tahu itu mencampuradukkan batas profesional.Tapi saya tetap menerimanya, karena ingin project tetap jalan.
Itu kesalahan pertama saya.
Kesalahan Kedua: Memulai Project Tanpa PKS yang Ditandatangani
Kami sudah sepakat angka.Saya sudah menerima pembayaran awal.
Tapi PKS (Perjanjian Kerja Sama) belum ditandatangani.
Perlu saya jelaskan:
- PKS sudah saya siapkan dari awal
- Sudah saya kirim
- Sudah saya follow up
Namun, saya tetap mengizinkan project berjalan.
Itu kesalahan kedua.
Saat Masalah Mulai Muncul
Begitu project berjalan, masalah sebenarnya mulai kelihatan:
- PIC klien telat memberikan feedback
- Chat di grup sering tidak dibalas
- Timeline jadi abu-abu
- Komunikasi terasa satu arah